Sejarah adalah
simpul-simpul kejayaan masa lalu yang menjadi pijakan atas terciptanya kejayaan
baru di masa yang akan datang. 

Bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang
dalam perjalanannya. Hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai kerajaan
serta cerita penjajahan yang silih berganti. Setiap pergantian periode telah
meninggalkan bukti atas eksistensinya. Banyak bukti-bukti yang dimilikinya.
Sebut saja prasasti, candi, karya sastra, dan lain-lain. Bukti inilah yang
harus kita jaga sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para pelaku sejarah
di masa lalu.
Upaya penghargaan yang dapat kita lakukan
adalah dengan mengunjungi situs-situs peninggalan sejarah. Situs-situs ini
menyimpan banyak cerita tentang masa lampau yang bermanfaat bagi tambahan
pengetahuan kita. Selain itu, wisata ini sekaligus mampu menumbuhkan semangat
nasionalisme dan rasa cinta terhadap karya anak bangsa.
Salah satunya adalah candi yang terletak di
Desa Toyomarto, kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini
bernama Candi Sumberawan.
Candi Sumberawan berupa sebuah stupa,
di kaki Gunung Arjuna berlokasi di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari. Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singhasari dan digunakan oleh umat Buddhapada masa itu.
Candi yang berada sekitar 7 Km dari Kota
Malang ini dibuat dari batu andesit dengan
ukuran panjang 6,25 m, lebar 6,25 m, dan tinggi 5,23 m, dibangun pada
ketinggian 650 m di atas permukaan laut, di kaki bukit Gunung Arjuna. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah
karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya karena
mengalir setiap tahun. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.

Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada
tahun 1904. Pada tahun 1935 diadakan kunjungan oleh peneliti dari Dinas Purbakala.
Pada zaman Hindia Belanda pada
tahun 1937 diadakan pemugaran pada bagian kaki candi, sedangkan sisanya
direkonstruksi secara darurat.
Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Batur
candi berdenah bujur sangkar, tidak memiliki tangga naik dan polos tidak berelief. Candi ini terdiri dari kaki dan badan yang
berbentuk stupa. Pada batur candi yang tinggi terdapat selasar, kaki candi
memiliki penampil pada keempat sisinya. Di atas kaki candi berdiri stupa yang
terdiri atas lapik bujur sangkar, dan lapik berbentuk segi delapan dengan
bantalan Padma,
sedang bagian atas berbentuk genta (stupa) yang puncaknya telah hilang. Karena
ada beberapa kesulitan dalam perencanaan kembali bagian teratas dari tubuh candi,
maka terpaksa bagian tersebut tidak dipasang kembali. Diduga dulu pada
puncaknya tidak dipasang atau dihias dengan payung atau chattra, karena
sisa-sisanya tidak ditemukan sama sekali. Candi Sumberawan tidak memiliki
tangga naik ruangan di dalamnya yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda
suci. Jadi, hanya bentuk luarnya saja yang berupa stupa, tetapi fungsinya tidak
seperti lazimnya stupa yang sesungguhnya. Diperkirakan candi ini dahulu memang
didirikannya untuk pemujaan dan cocok untuk meditasi.
Para ahli purbakala memperkirakan Candi
Sumberawan dulunya bernama Kasurangganan,
sebuah nama yang terkenal dalam kitab Negarakertagama. Tempat tersebut telah dikunjungi Hayam Wuruk pada
tahun 1359 masehi, sewaktu ia mengadakan perjalanan keliling. Dari
bentuk-bentuk yang tertulis pada bagian batur dan dagoba (stupanya) dapat
diperkirakan bahwa bangunan Candi Sumberawan didirikan sekitar abad 14 sampai
15 masehi yaitu pada periode Majapahit. Bentuk stupa pada Candi Sumberawan ini menunjukkan
latar belakang keagamaan yang bersifat Buddhisme.
![]() |
![]() ![]() |
![]() |
![]() ![]() |
|
|
|





